Selasa, 25 November 2014

BLUSUKAN NABI

Oleh: Sunarto

Dan mereka berkata: mengapa Rosul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?

atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya? dan orang-orang yang zalim itu berkata: kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang kena sihir. (QS. Al-Furqon: 7-8)

Bacalah sebaik mungkin terjemahan ayat studi ini, hayatilah isi pesannya dan renungkan pula pelajaran apa yang tersembunyi di balik pesan itu. Tulisan ini tentunya punya tanggung jawab akademik untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran yang diambil dari pesan ayat suci. hal ini sangat perlu, untuk mengantisipasi kemungkinan adanya tanggapan sepihak yang menuduh tafsiran ini sebagai upaya memanfaatkan firman Tuhan untuk kepentingan politik.

Sesungguhnya, bukan suatu hal yang baru dalam sejarah Islam tentang seorang pemimpin yang melakukan kegiatan blusukan, melihat kondisi rakyatnya secara langsung. Dan, bukan suatu hal yang baru juga adanya anggapan negatif terhadap kegiatan blusukan.

Kaum musyrikin, menganggap bahwa seorang Rosul, tidaklah pantas memakan jajanan pasar (ya’kulu attho’am), jalan di pasar-pasar (yamsyi fil aswaq). Bayangan mereka, seorang pemimpin adalah yang duduk manis di singgasananya, rakyat yang sendiko dawuh, punya banyak perusahaan, perkebunan yang luas (lahu jannah), sehingga tidak perlu lagi bersusah-susah memikirkan urusan ekonominya. Maka, begitu melihat kanjeng nabi Muhammad saw. yang melakukan kegiatan berdagang di pasar-pasar, mereka menertawakan dengan nada penghinaan.

Sebagai yang memberikan artivisual wahyu, tidak akan ada di dalam al-Quran bahasan tentang jual beli, timbangan, hutang piutang, riba dll, kalau kanjeng nabi hanya sholat, puasa, duduk berdiam diri di rumah. Maka, seorang Rosul jalan-jalan di pasar itu penting, dan ternyata Rosul-Rosul terdahulu juga seperti itu (QS.Al-Furqon:20). blusukan nabi di pasar-pasar ini bukanlah murni bisnis, apalagi pencitraan, tapi motif yang terpenting adalah dalam rangka mengetahui kondisi langsung aktivitas rakyatnya, kalau ada penyelewengan maka turunlah ayat sebagai peringatan.

MUI, Seharusnya tidak hanya sekedar memberikan label halal/haram tanpa adanya tim lapangan sebagai tindak lanjut yang melakukan kontrol apakah masih ada yang menjual makanan dan minuman haram, karena tidak semua penjual yang taat hukum.

Kalau seorang kyai, kehidupannya hanya di masjid, pesantren, majlis ta’lim, tapi alergi dengan dunia politik, karena menganggap politik itu kotor dan tidak pantas baginya, ya baik. Tapi, rumah yang kotor penuh debu kalau semakin didiamkan tentu akan menjadi sarang penyakit. Kalau ada kucing masuk got, tidak akan terselamatkan kalau hanya teriak-teriak. Maka, masuklah got, dan bantu kucing itu agar bisa keluar dari got. Blusukan seorang kyai seperti Gus Mik atau seorang pemimpin seperti Bu Risma ke gang dolly adalah sangat perlu untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya, bukan hanya sekedar ayat-ayat ancaman yang didengungkan di luar.

Singkatnya, Pemimpin itu harus pandai berkomunikasi kepada rakyatnya (QS. Ibrohim: 4), memahami bahasa rakyat, baik secara verbalistik maupun bahasa kondisi, utamanya bahasa kebutuhan sehari-hari, kebutuhan rakyat itu bisa ditemukan dengan blusukan langsung di pasar-pasar, ke gorong-gorong, tempat-tempat porstitusi. atau, bisa juga melalui laporan aparat di bawahnya.

Blusukan itu baik dan terpuji, tapi bisa jadi sistem kepemimpinannya stagnan, sedangkan yang melalui kementrian nampak kurang merakyat dan hanya di belakang meja, tapi menunjukkan sistem kinerjanya lancar. Yang terbagus adalah, sistem kinerjanya lancar dan membuktikan sendiri di lapangan. wallahu ‘Alam


KERISTOLOGI

Oleh: Sunarto

Ada sebagian orang menganggap bahwa memiliki keris akan dapat menjadi musyrik dan syirik, hal tersebut terjadi jika kita salah dalam memandang keris, mungkin kita percaya akan kehebatan keris yang mampu membuat kaya, mampu membuat aman, menambah kewibawaan, mampu membuat bahagia dan melupakan kekuasaan Allah swt., cara pandang yang salah tersebut harus kita perbaiki sejalan dengan membuka dan mengkaji secara mendalam informasi-informasi yang dihadirkan oleh al-Quran.

Secara khusus, surat ke 57 di dalam al-Quran mengambil nama alhadid yang berarti besi, hal ini adalah salah satu cara al-Quran untuk memberikan kesan keseriusan informasi yang akan dihidangkan. Pertanyaan yang muncul adalah, ada apa dengan besi?

Kata alhadid, diambil dari ayat ke 25 dalam surat tersebut. Dalam ayat itu diungkapkan secara jelas bahwa besi memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dan banyak sekali manfaatnya bagi manusia, wa anzalnal hadiida fiihi ba’sun syadiidun wamanafi’u linnaasi.

Para mufassir, tampaknya sangat berhati-hati atau sedikit penasaran dengan kata anzalna yang digunakan al-Quran pada ayat anzalnal hadiida, makna paling dekatnya adalah kami turunkan besi, seperti waanzalna minassamaa-i maa-a yang berarti kami turunkan air (hujan) dari langit. Lalu, darimanakah besi itu diturunkan? Dari langit? Atau dari mana? Logika kita, turun ya dari atas. Ibnu Abbas, menafsirkan dengan kholaqnal hadiida (Tanwirul Miqbas min Tafsiri Ibni Abbas) yang berarti kami ciptakan besi, yang kemudian banyak para mufassir selanjutnya menjadi makmum beliau.

Seorang ilmuwan terkenal yang menjadi pembicara dalam seminar “mukjizat ilmiah al-Quran alkarim” DR Strogh yang juga begitu tersohor dikalangan badan antariksa amerika (NASA) mengatakan, “kami telah melakukan berbagai penelitian terhadap barang tambang bumi dan sejumlah penelitian laboratorium, namun hanya satu jenis barang tambang yang sangat membingungkan para ilmuwan, yaitu BESI. Dari sisi kapasitasnya, besi memiliki bentuk (struktur) yang unik. Agar elektron-elektron dan nitron-nitron dapat menyatu dalam unsur besi, maka ia butuh energi yang luar biasa mencapai 4 kali lebih besar dari total energi yang ada di planet matahari kita. “ini berarti, tidak mungkin besi itu telah terbentuk saat berada di bumi, pasti ada unsur aneh yang turun ke bumi dimana ia belum terbentuk di sana”.

Dengan informasi di atas, telah sedikit membantu kita untuk membuka dan memahami studi ayat ini, bahwa besi itu diturunkan, karena memang besi adalah turis asing yang sudah menetap lama bumi, seperti halnya meteor, dia punya kekuatan, dan karena kekuatan itu sehingga memberikan banyak manfaat untuk manusia.

Lalu, apa kaitannya dengan keris? Jawabannya, besi inilah yang dijadikan para empu sebagai bahan baku untuk membuat keris, besi itu ditempa dengan api. Pengelolaan besi dengan penempaan seperti itu ternyata terdapat informasinya di dalam QS. Alkahfi: 96.

Tekhnologi pengelolaan besi, tampaknya telah dikuasai manusia sejak zaman nabi Daud a.s. hal itu terungkap dalam QS. Al-Anbiya: 80, QS. Saba’: 10-11. Al-Quran sendiri menyebut kata besi sampai 9x dalam berbagai surat.

Berkenaan dengan manfaat besi, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa kekuatan besi itu bisa untuk perang, membunuh musuh (Tanwirul Miqbas min Tafsiri Ibni Abbas). Di era kejayaan Islam, berkembang pesat tekhnologi pengolahan besi dan baja serta seni membuat pedang, Damaskus adalah tempat yang sangat masyhur di dunia pada waktu itu. Pedang tersebut tidak lain adalah untuk berperang. Hal ini sangatlah berbeda dengan Jawa, para empu melihat besi lebih kepada dimensi esoterisnya, maka kita bisa lihat bahwa keris itu bukan untuk perang, melainkan sebagai pusaka, kewibawaan, mahabbah, dll. Sejarah mencatat, Islam masuk di tanah jawa bukan dengan perang, teks-teks manuskrip banyak kita temukan hampir semua membahas tentang tasawuf. Maka jangan heran, para empu selalu menirakati keris yang dia buat, mereka berpuasa, mereka memandikannya, mereka memberinya nama, keris itu Seakan-akan hidup karena memang ada energi spritual di dalamnya. Rosul sendiri memberikan nama untuk pedang-pedangnya seakan-akan pedang itu hidup. Do’a-do’a dan laku tirakat si empu itulah yang menjadi energi positif yang ada di dalam keris tersebut, tidak jauh beda dengan air yang semakin baik molekulnya setelah ditiupkan do’a di dalamnya. Maha benar Allah dengan segala firmanNya. Wallahu a’lam


AJIAN BOLO SEWU

Oleh: Sunarto

Dan, buatlah bagi mereka sebuah perumpamaan tentang penduduk sebuah negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka. Ketika kami mengirim kepada merekadua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya, kemudian kami perkuat dengan utusan yang ketiga, dan mereka berkata, “sesungguhnya kami diutus kepada kalian”. Mereka menjawab, “kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan yang maha penyayang tidaklah meurunkan sesuatupun kepada kami. Sungguh kamu hanyalah berdusta.” Mereka (para utusan) berkata, “tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (risalah) yang terang. Mereka berkata, “sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika tidak kamu hentikan, niscaya kamu akan kami lempari, dan akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” Para utusan menjawab, “apakah kemalangan yang menimpa kalian disebabkan adanya peringatan yang diberikan kepada kalian? Tidak! Bahkan kalian itulah kaum yang melanggar.” (QS. Yasin: 13-19).

Dalam beberapa kitab tafsir besar, seperti al-Maroghi dan al-Jalalain, berpandangan bahwa ketiga rosul dalam studi ayat ini adalah nabi Isa beserta santrinya yang dikirimkan ke Antakyah, sekarang disebut Antakya, terletak di Asia kecil yaitu di semenanjung (Asia barat daya) yang sekarang merupakan bagian negara Turki. Tulisan ini tidak akan menjelaskan siapa dan di mana sebenarnya yang dikisahkan dalam ayat ini, tapi lebih kepada universalitas nilai yang sangat perlu kita pelajari bersama.

Sesungguhnya, diutusnya seorang rosul kepada suatu kaum tidak serta merta semua orang bisa menerimanya. Sejarah mencatat, betapa nabi Nuh yang dakwahnya ditertawakan oleh kaumnya, Nabi Ibrohim as. yang harus melawan kekejaman Raja Namrud beserta kroni-kroninya, Nabi Musa yang harus melawan kesombongan Firaun, dan bagaimana pedihnya Nabi kita Muhammad saw. Diludahi, dianggap gila, dan hampir semua rosul tidak ada yang tanpa rintangan dalam dakwahnya. Namun, karena ini adalah skenario Tuhan, maka tidak mungkin Tuhan diam saja melihat kesusahan yang dialami kekasihNya.

Bentuk campur tangan Allah swt. paling sederhana bisa kita lihat bahwa dalam menjalankan tugasnya, seorang nabi tidaklah sendirian, nabi musa as., mempunyai cantrik yang setia menemaninya, yaitu nabi harun as. yang kebetulan saudaranya sendiri. Nabi Daud disertai beberapa nabi, dan dilanjutkan oleh nabi sulaiman as, nabi zakaria as. dilanjutkan oleh nabi yahya., dan nabi yahya menyertai nabi Isa as. kadangkala, seorang nabi tidak disertai oleh nabi yang lain, tetapi disertai sahabat-sahabatnya atau santri-santrinya. Di belakang Perjalanan dakwah nabi Muhammad saw. Terdapat sahabat-sahabatnya yang setia mendukung dan membantu. Fa’azzazna bitsalitsin “kemudian kami kuatkan dengan utusan yang ketiga” adalah bantuan kongkrit dari Allah swt. maka sesungguhnya, Santri-santri atau Sahabat-sahabat itu adalah aliansi ilahiyyah yang sengaja digerakkan oleh Tuhan sendiri dalam rangka menguatkan ketulusan dakwah para nabiNya. Ya, ketulusan. Ketulusan dan pengabdian sejati para nabi dalam berdakwah inilah yang menarik semesta untuk ikut dalam perjuangannya. Analoginya begini, kalau ada santri sendirian sedang bersih-bersih di lingkungan pesantren, agar tidak melihat santrinya tersebut kelelahan, seorang kyai pun memanggil santri-santri yang lain untuk ikut membantunya.

Hal ini, seperti pemikiran luhur orang-orang jawa tentang ajian bolosewu, bolo itu teman dan sewu itu seribu, ajian bolosewu adalah ajian yang mampu menarik banyak teman. Bagi orang yang belajar tentang ilmu mistik jawa, teman di sini adalah khodam, jadi bukan hanya manusia yang akan membantu bahkan bangsa jinpun ingin menjadi teman dekat. Apakah ini syirik? Tidak, lihatlah bagaimana Sulaiman mampu mengakomodir pasukan-pasukannya dari bangsa manusia, jin, dan burung (QS. Annaml: 17).

Seperti halnya dalam studi ayat ini, Aji bolo sewu ini hanya ada satu yang menjadi syarat penting, yaitu totalitas dalam pengabdian, inilah yang disindir dalam lanjutan studi ayat ini ittabi’u man laa yasalukum ajron wahum muhtadun (QS. Yasin:21), “Ikutilah orang-orang yang tidak meminta upah kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang dapat petunjuk.” kalau ada bisnis dalam dakwah, maka jangan berharap semesta akan membantu. Allah akan melihat, siapa yang benar-benar meneruskan perjuangkan rosul-rosulnya dan siapa yang hanya mencari popularitas. Totalitaslah dalam pengabdian, maka Allah swt. tidak tinggal diam.