Selasa, 25 November 2014

AJIAN BOLO SEWU

Oleh: Sunarto

Dan, buatlah bagi mereka sebuah perumpamaan tentang penduduk sebuah negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka. Ketika kami mengirim kepada merekadua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya, kemudian kami perkuat dengan utusan yang ketiga, dan mereka berkata, “sesungguhnya kami diutus kepada kalian”. Mereka menjawab, “kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan yang maha penyayang tidaklah meurunkan sesuatupun kepada kami. Sungguh kamu hanyalah berdusta.” Mereka (para utusan) berkata, “tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.” Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (risalah) yang terang. Mereka berkata, “sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika tidak kamu hentikan, niscaya kamu akan kami lempari, dan akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” Para utusan menjawab, “apakah kemalangan yang menimpa kalian disebabkan adanya peringatan yang diberikan kepada kalian? Tidak! Bahkan kalian itulah kaum yang melanggar.” (QS. Yasin: 13-19).

Dalam beberapa kitab tafsir besar, seperti al-Maroghi dan al-Jalalain, berpandangan bahwa ketiga rosul dalam studi ayat ini adalah nabi Isa beserta santrinya yang dikirimkan ke Antakyah, sekarang disebut Antakya, terletak di Asia kecil yaitu di semenanjung (Asia barat daya) yang sekarang merupakan bagian negara Turki. Tulisan ini tidak akan menjelaskan siapa dan di mana sebenarnya yang dikisahkan dalam ayat ini, tapi lebih kepada universalitas nilai yang sangat perlu kita pelajari bersama.

Sesungguhnya, diutusnya seorang rosul kepada suatu kaum tidak serta merta semua orang bisa menerimanya. Sejarah mencatat, betapa nabi Nuh yang dakwahnya ditertawakan oleh kaumnya, Nabi Ibrohim as. yang harus melawan kekejaman Raja Namrud beserta kroni-kroninya, Nabi Musa yang harus melawan kesombongan Firaun, dan bagaimana pedihnya Nabi kita Muhammad saw. Diludahi, dianggap gila, dan hampir semua rosul tidak ada yang tanpa rintangan dalam dakwahnya. Namun, karena ini adalah skenario Tuhan, maka tidak mungkin Tuhan diam saja melihat kesusahan yang dialami kekasihNya.

Bentuk campur tangan Allah swt. paling sederhana bisa kita lihat bahwa dalam menjalankan tugasnya, seorang nabi tidaklah sendirian, nabi musa as., mempunyai cantrik yang setia menemaninya, yaitu nabi harun as. yang kebetulan saudaranya sendiri. Nabi Daud disertai beberapa nabi, dan dilanjutkan oleh nabi sulaiman as, nabi zakaria as. dilanjutkan oleh nabi yahya., dan nabi yahya menyertai nabi Isa as. kadangkala, seorang nabi tidak disertai oleh nabi yang lain, tetapi disertai sahabat-sahabatnya atau santri-santrinya. Di belakang Perjalanan dakwah nabi Muhammad saw. Terdapat sahabat-sahabatnya yang setia mendukung dan membantu. Fa’azzazna bitsalitsin “kemudian kami kuatkan dengan utusan yang ketiga” adalah bantuan kongkrit dari Allah swt. maka sesungguhnya, Santri-santri atau Sahabat-sahabat itu adalah aliansi ilahiyyah yang sengaja digerakkan oleh Tuhan sendiri dalam rangka menguatkan ketulusan dakwah para nabiNya. Ya, ketulusan. Ketulusan dan pengabdian sejati para nabi dalam berdakwah inilah yang menarik semesta untuk ikut dalam perjuangannya. Analoginya begini, kalau ada santri sendirian sedang bersih-bersih di lingkungan pesantren, agar tidak melihat santrinya tersebut kelelahan, seorang kyai pun memanggil santri-santri yang lain untuk ikut membantunya.

Hal ini, seperti pemikiran luhur orang-orang jawa tentang ajian bolosewu, bolo itu teman dan sewu itu seribu, ajian bolosewu adalah ajian yang mampu menarik banyak teman. Bagi orang yang belajar tentang ilmu mistik jawa, teman di sini adalah khodam, jadi bukan hanya manusia yang akan membantu bahkan bangsa jinpun ingin menjadi teman dekat. Apakah ini syirik? Tidak, lihatlah bagaimana Sulaiman mampu mengakomodir pasukan-pasukannya dari bangsa manusia, jin, dan burung (QS. Annaml: 17).

Seperti halnya dalam studi ayat ini, Aji bolo sewu ini hanya ada satu yang menjadi syarat penting, yaitu totalitas dalam pengabdian, inilah yang disindir dalam lanjutan studi ayat ini ittabi’u man laa yasalukum ajron wahum muhtadun (QS. Yasin:21), “Ikutilah orang-orang yang tidak meminta upah kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang dapat petunjuk.” kalau ada bisnis dalam dakwah, maka jangan berharap semesta akan membantu. Allah akan melihat, siapa yang benar-benar meneruskan perjuangkan rosul-rosulnya dan siapa yang hanya mencari popularitas. Totalitaslah dalam pengabdian, maka Allah swt. tidak tinggal diam.


Tidak ada komentar: