Oleh: Sunarto Ahmad
Tepat pukul 11.00, kang sholeh terlihat sudah berada di shof depan masjid. Seperti biasa, dengan suara yang merdu, dia melantunkan ayat-ayat suci al-Qur an dengan pengeras suara, sehingga suaranya terdengar sampai masyarakat kampung. Kalau sudah terdengar suara kang sholeh, Para santri dan masyarakat kampung langsung menuju masjid, karena suaranya tidak lain adalah penanda persiapan sholat jum’at. Diakui memang, suaranya lebih enak didengar daripada kebisingan suara kaset seperti di masjid-masjid perkotaan.
“Hari ini jadwal khutbahnya siapa kang?” Tanya Ahmad kepada Kang Hadi.
“Memang hari ini jum’at apa Mad?” Sahut Kang Hadi.
“Jumat wage kang”, Jawab Ahmad sambil mengoleskan minyak parfum ke bajunya.
“Ooo… kalau jumat wage berarti jadwalnya Pak Kyai”, tukas Kang Hadi.
“Wah… pasti menarik kang”, kata Ahmad.
“Ya… makanya rugi kalau kamu tidur waktu Pak Kyai khutbah” pungkas Kang Hadi dengan senyum.
Khutbahnya singkat, bahasanya lugas, selalu aktual, dan yang lebih penting, bisa diterima oleh masyarakat dari yang awam sampai profesor sekalipun. Maka pantas, kalau jumat wage masjid selalu penuh bahkan tidak jarang sampai di pelataran masjid. Orang-orang ini kebanyakan adalah wali santri yang sengaja datang ke pondok setiap jumat wage, di samping menjenguk putranya, mereka tahu kalau hari itu adalah jadwal khutbah pak kyai.
Adzan pertama dan kedua sudah berkumandang, tampak seseorang di atas mimbar, rambutnya yang panjang sedikit ikal, berpakaian serba putih dengan wajah yang teduh bagi siapa saja yang melihatnya, suaranya lantang, lisannya fasih, dialah kyai Syukur.
Kali ini, beliau membacakan ayat yang sering kita baca, yaitu Q.S. Yasin: 33-35
واية لهم الارض الميتة احيينها واخرجنا منها حبا فمنه يأكلون* وجعلنا فيها جنات من نخيل واعناب وفجرنا فيها من العيون* ليأكلوا من ثمره وما عملته ايديهم افلا يشكرون*
Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan.
Dan kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur, dan kami pancarkan padanya beberapa mata air.
Agar mereka dapat makan dari buahnya, dan dari usaha tangan mereka, maka mengapa mereka tidak bersyukur?
Hadirin sidang jum’at yang berbahagia…
Cukup mudah bagi Allah untuk mensuburkan bumi-bumi yang mati atau tandus, seperti mudahnya bagi Allah mengumpulkan tulang belulang yang sudah retak menjadi manusia kembali. Bumi yang mati adalah bumi yang di atasnya banyak manusia berbuat maksiat, ketahuilah, bukan hal yang sulit bagi Allah untuk memusnahkan kemaksiatan itu agar bumi ini kembali merekahkan senyumnya.
Sebagai satu contoh, Tebuireng, dulu adalah tempat judi, porstitusi, dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain. Melalui KH. Hasyim Asy’ari, Allah merubahnya menjadi lahan subur, taman-taman tarbawi yang di bawahnya mengalir mata air ilmu yang jernih. Sudah banyak menumbuhkan bibit-bibit unggul, generasi-generasi berkarakter, berilmu, dan berakhlaq yang selalu ikut berpartisipasi dalam membangun peradaban bangsa ini.
Pertanyaannya adalah, afalaa yasykuruun? Mengapa mereka tidak bersyukur? Apa bentuk terimakasih bangsa ini kepada para kyai? Apa wujud terimakasih bangsa ini kepada pesantren? Semoga bukan hanya menjadikan nama mereka-mereka yang ikhlas menjaga keutuhan bangsa ini menjadi nama-nama jalan. Amin.
“Semoga Allah swt. memberkahi kita semua”, do’a Kyai Syukur sebagai penutup khutbahnya.
Pondok Pesantren Qudrotillah
Senin, 26 Januari 2015
Senin, 19 Januari 2015
Belajar Bertoleransi dari Tragedi Charlie Hebdo
Oleh: Syahrul Munir
Dunia kembali berduka. Belum tuntas tragedi Air Asia yang menyita perhatian dunia, kini tragedi baru terjadi di Paris pada tanggal 7 Januari 2015, tepatnya di kantor majalah Charlie Hebdo dimana terjadi penembakan oleh sekelompok teroris terhadap para kartunis yang bekerja disana. Sekitar 22 orang dibantai dalam kejadian tersebut. 12 orang meninggal dunia, dan 10 luka-luka.
Pembantaian ini dipicu oleh munculnya kartun nabi Muhammad yang dibuat pada tahun 2012 oleh para kartunis Charlie Hebdo. Muhammad ketika itu digambarkan sebagai sosok yang memakai turban dan diatas kepalanya terdapat bom. Hal ini dianggap menghina agama Islam lantaran penggambaran Muhammad yang identik dengan seorang teroris, baru-baru ini juga Charlie Hebdo merilis kartun pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi yang sedang mengucapkan "Et surtout la santé" dalam bahasa Prancis.
Kartun-kartun hasil karya Charlie Hebdo memang seringkali menuai kontroversi karena sangat satir dan dianggap menghina agama-agama besar dunia. Mereka memang menjunjung tinggi kebebasan dalam berekspresi sehingga kartun buatannya sangat kontroversial dan berbau kritik. Majalah ini seringkali mendapat peringatan dari pemerintah namun seringkali juga mereka tak mengindahkannya.
Kasus terorisme ini mendapat reaksi yan
g sangat besar dari masyarakat dunia maya. Beberapa dari mereka memprovokasi yang lainnya untuk menggambar Muhammad dengan versinya masing-masing sebagai reaksi bahwa menggambar adalah bentuk kebebasan berekspresi. Ada pula gejala Islamophobia, yakni takut terhadap orang-orang yang beridentitaskan Islam lantaran dalam kasus penembakan tersebut terdapat rekaman video penembakan yang menunjukkan bahwa ciri-ciri pelaku beragama Islam.
Tindakan terorisme Charlie Hebdo ini dikait-kaitkan dengan jaringan al-Qaeda. Al-Qaeda Magazine Hit List membeberkan beberapa nama kartunis Charlie Hebdo yang menjadi target operasi mereka, seperti yang dilansir di Slate.com
Isu terorisme memang akhir-akhir ini sering dikaitkan dengan agama, padahal dogma semua agama mengajarkan untuk mengedepankan sikap toleransi dan saling menghargai sesama manusia tanpa memandang latarbelakang agamanya. Beberapa tanggapan muncul salah satunya berasal netizen yang bernama @galaturco yang berpendapat bahwa "Terrorists cannot represent Islam."
Perilaku terorisme di kantor Charlie Hebdo merupakan tindakan kejahatan yang tak bisa dibenarkan meskipun atas nama agama. Hal ini telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan memicu disintegrasi dan intoleran dalam skala besar. Padahal ada jalan lain yang bisa ditempuh yang berupa diskusi publik dan mediasi untuk memecahkan masalah, bukan dengan jalan kekerasan. Penegakan supremasi hukum yang ketat juga menjadi langkah terakhir, bukan dengan jalan main hakim sendiri.
Kasus terorisme yang terjadi di Paris ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menjaga keutuhan bangsa, karena keutuhan inilah terkandung nilai-nilai toleransi, kebebasan berekspresi, dan saling menghargai.
Dunia kembali berduka. Belum tuntas tragedi Air Asia yang menyita perhatian dunia, kini tragedi baru terjadi di Paris pada tanggal 7 Januari 2015, tepatnya di kantor majalah Charlie Hebdo dimana terjadi penembakan oleh sekelompok teroris terhadap para kartunis yang bekerja disana. Sekitar 22 orang dibantai dalam kejadian tersebut. 12 orang meninggal dunia, dan 10 luka-luka.
Pembantaian ini dipicu oleh munculnya kartun nabi Muhammad yang dibuat pada tahun 2012 oleh para kartunis Charlie Hebdo. Muhammad ketika itu digambarkan sebagai sosok yang memakai turban dan diatas kepalanya terdapat bom. Hal ini dianggap menghina agama Islam lantaran penggambaran Muhammad yang identik dengan seorang teroris, baru-baru ini juga Charlie Hebdo merilis kartun pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi yang sedang mengucapkan "Et surtout la santé" dalam bahasa Prancis.
Kartun-kartun hasil karya Charlie Hebdo memang seringkali menuai kontroversi karena sangat satir dan dianggap menghina agama-agama besar dunia. Mereka memang menjunjung tinggi kebebasan dalam berekspresi sehingga kartun buatannya sangat kontroversial dan berbau kritik. Majalah ini seringkali mendapat peringatan dari pemerintah namun seringkali juga mereka tak mengindahkannya.
Kasus terorisme ini mendapat reaksi yan
Tindakan terorisme Charlie Hebdo ini dikait-kaitkan dengan jaringan al-Qaeda. Al-Qaeda Magazine Hit List membeberkan beberapa nama kartunis Charlie Hebdo yang menjadi target operasi mereka, seperti yang dilansir di Slate.com
Isu terorisme memang akhir-akhir ini sering dikaitkan dengan agama, padahal dogma semua agama mengajarkan untuk mengedepankan sikap toleransi dan saling menghargai sesama manusia tanpa memandang latarbelakang agamanya. Beberapa tanggapan muncul salah satunya berasal netizen yang bernama @galaturco yang berpendapat bahwa "Terrorists cannot represent Islam."
Perilaku terorisme di kantor Charlie Hebdo merupakan tindakan kejahatan yang tak bisa dibenarkan meskipun atas nama agama. Hal ini telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan memicu disintegrasi dan intoleran dalam skala besar. Padahal ada jalan lain yang bisa ditempuh yang berupa diskusi publik dan mediasi untuk memecahkan masalah, bukan dengan jalan kekerasan. Penegakan supremasi hukum yang ketat juga menjadi langkah terakhir, bukan dengan jalan main hakim sendiri.
Kasus terorisme yang terjadi di Paris ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menjaga keutuhan bangsa, karena keutuhan inilah terkandung nilai-nilai toleransi, kebebasan berekspresi, dan saling menghargai.
Langganan:
Postingan (Atom)

