Senin, 19 Januari 2015

Belajar Bertoleransi dari Tragedi Charlie Hebdo

Oleh: Syahrul Munir

Dunia kembali berduka. Belum tuntas tragedi Air Asia yang menyita perhatian dunia, kini tragedi baru terjadi di Paris pada tanggal 7 Januari 2015, tepatnya di kantor majalah Charlie Hebdo dimana terjadi penembakan oleh sekelompok teroris terhadap para kartunis yang bekerja disana. Sekitar 22 orang dibantai dalam kejadian tersebut. 12 orang meninggal dunia, dan 10 luka-luka.

Pembantaian ini dipicu oleh munculnya kartun nabi Muhammad yang dibuat pada tahun 2012 oleh para kartunis Charlie Hebdo. Muhammad ketika itu digambarkan sebagai sosok yang memakai turban dan diatas kepalanya terdapat bom. Hal ini dianggap menghina agama Islam lantaran penggambaran Muhammad yang identik dengan seorang teroris, baru-baru ini juga Charlie Hebdo merilis kartun pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi yang sedang mengucapkan "Et surtout la santé" dalam bahasa Prancis.

Kartun-kartun hasil karya Charlie Hebdo memang seringkali menuai kontroversi karena sangat satir dan dianggap menghina agama-agama besar dunia. Mereka memang menjunjung tinggi kebebasan dalam berekspresi sehingga kartun buatannya sangat kontroversial dan berbau kritik. Majalah ini seringkali mendapat peringatan dari pemerintah namun seringkali juga mereka tak mengindahkannya.

Kasus terorisme ini mendapat reaksi yan
g sangat besar dari masyarakat dunia maya. Beberapa dari mereka memprovokasi yang lainnya untuk menggambar Muhammad dengan versinya masing-masing sebagai reaksi bahwa menggambar adalah bentuk kebebasan berekspresi. Ada pula gejala Islamophobia, yakni takut terhadap orang-orang yang beridentitaskan Islam lantaran dalam kasus penembakan tersebut terdapat rekaman video penembakan yang menunjukkan bahwa ciri-ciri pelaku beragama Islam.

Tindakan terorisme Charlie Hebdo ini dikait-kaitkan dengan jaringan al-Qaeda. Al-Qaeda Magazine Hit List membeberkan beberapa nama kartunis Charlie Hebdo yang menjadi target operasi mereka, seperti yang dilansir di Slate.com

Isu terorisme memang akhir-akhir ini sering dikaitkan dengan agama, padahal dogma semua agama mengajarkan untuk mengedepankan sikap toleransi dan saling menghargai sesama manusia tanpa memandang latarbelakang agamanya. Beberapa tanggapan muncul salah satunya berasal netizen yang bernama @galaturco yang berpendapat bahwa "Terrorists cannot represent Islam."

Perilaku terorisme di kantor Charlie Hebdo merupakan tindakan kejahatan yang tak bisa dibenarkan meskipun atas nama agama. Hal ini telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan memicu disintegrasi dan intoleran dalam skala besar. Padahal ada jalan lain yang bisa ditempuh yang berupa diskusi publik dan mediasi untuk memecahkan masalah, bukan dengan jalan kekerasan. Penegakan supremasi hukum yang ketat juga menjadi langkah terakhir, bukan dengan jalan main hakim sendiri.

Kasus terorisme yang terjadi di Paris ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk bersama-sama menjaga keutuhan bangsa, karena keutuhan inilah terkandung nilai-nilai toleransi, kebebasan berekspresi, dan saling menghargai.