Sabtu, 06 Desember 2014

Tradisi Pesantren; Tradisi Kemandirian dan Kesederhanaan

Oleh: Syahrul Munir

Pesantren adalah tempat tinggal para santri yang sedang menuntut ilmu tentang islam. Banyak sekali pesantren yang tersebar di Nusantara ini; Pesantren Tebuireng di Jombang, Pesantren Syaichona Kholil di Madura, Pesantren Krapyak di Jogjakarta, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Lirboyo di Kediri, Pesantren Buntet di Cirebon, Pesantren Cipasung di Tasikmalaya, Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Tremas di Pacitan, Pesantren Roudhotut Tholibin di Rembang, Pesantren Darul Istiqomah di Sulawesi Selatan, Pesantren Darussalam di Kalimantan, dan masih banyak lagi.

Secara bahasa, ada yang menyebutnya dengan istilah penyantren, pondok, pondokan, dan surau. Meskipun secara struktur kata berbeda, namun mempunyai esensi yang sama. Pesantren memang mengalami perkembangan dari masa ke masa menyesuaikan dengan kondisi jaman. Meski terkesan fleksibel, namun pesantren masih memegang erat tradisi kemandirian dan kesederhanaan. Para santri pencari ilmu terkesan sedikit berbeda dengan non santri bukan lantaran tingkat kedalaman keilmuannya, melainkan ciri khas kemandirian dan kesederhanaannya.

Dua konsep ini tidak diajarkan dengan bobot jumlah sks semacam perkuliahan; semakin besar sks maka semakin besar pula nilainya, atau dengan KKM (kriteria ketuntasan minimal); bahwa tiap santri harus mendapatkan nilai diatas standar KKM. Lebih esensial, bahwa konsep kesederhanaan dan kemandirian ini diajarkan melalui keseharian. Santri diajarkan secara alamiah melalui lingkungan pesantren tentang bagaimana berbusana yang sederhana namun sopan, mencuci pakaiannya sendiri, masak sendiri, makan dengan lauk pauk seadanya, tidur beralaskan lantai, dst. Sehingga jarang ditemui santri yang berlebih-lebihan dalam hal makan dan berbusana.

Begitu pula dengan jadwal keseharian di pesantren yang cenderung padat dengan mengaji al Quran dan mengkaji kitab-kitab kuning klasik. Tiap santri terkondisikan dengan sendirinya sehingga ia mampu mengatur jadwalnya, kapan ia harus tidur, belajar, dan bermain. Karena begitu jadwal keseharian mereka tak teratur; tidur diwaktu sholat berjamaah, tak mengikuti kegiatan mengaji, bermain-main saat jam belajar, keluar area pesantren saat malam hari untuk bermain, dst. maka santri akan langsung menerima hukuman (ta’zir) dari para pengurus. Meskipun berangkat dari ancaman jika melanggar maka dita’zir, namun kondisi semacam ini sangat memungkinkan untuk santri menjadi lebih waspada dan mandiri dalam berbagai hal. Karena lagi-lagi seperti yang telah disebutkan diatas bahwa tak ada kurikulum dan standar nilai tentang kemandirian di pesantren. Dengan kata lain, kemandirian dan kesederhanaan merupakan proses panjang melalui medium keseharian yang terkondisikan. Medium yang dimaksud adalah pesantren.


Tidak ada komentar: