Oleh: Syahrul Munir
Bagi sebagian generasi muda yang hidup di masa populer ini, mungkin terdengar asing dengan istilah manaqib. Namun, jika kita lihat definisinya, manaqib bermakna kisah perjalanan hidup. Sehingga, membaca manaqib bisa juga berarti membaca sejarah perjalanan hidup seseorang yang sangat alim dimasanya. Sebenarnya banyak manfaat yang bisa diambil dengan membaca manaqib ini. Pertama, kita bisa meniru perilaku tokoh ulama tersebut dalam usahanya mencari kebekahan ilmu. Kedua, sebagai sarana untuk mengingat akan jasa para alim ulama yang telah memperjuangkan kebenaran menurut al-Qur’an dan as-Sunnah. Ketiga, belajar mengenai strategi ulama tersebut dalam berdakwah. Keempat, sebagai alternatif jawaban atas permasalahan yang kini kita hadapi (sejarah sebagai solusi), dst. Di kalangan Ahlusunnah wal Jamaah, seringkali kita jumpai mereka sedang menggelar majelis kemudian membaca manaqib Syekh Abdul Qodir al-Jilani, sosok tokoh sufi yang sangat terkenal dan sangat alim di masanya. Hal ini merupakan usaha kembali ke masa lalu dengan membaca kilas balik sejarah dan perjuangan beliau dalam mengajarkan ajaran tasawufnya.
Syekh Abdul Qodir al-Jilani merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW melalui cucunya, Imam Al Husain bin Ali bin Abi Tholib. Semasa muda, beliau berjuang keras mendapatkan berkah keilmuan dengan berhijrah ke Baghdad dan berguru ke Abu Sa’id al-Mukharrimi, Hammad bin ad-Dabbas, Ibnu ‘Aqil, al-Qadhi Abu Ya’la, dan masih banyak lagi. Tradisi sufi yang beliau ajarkan yakni dengan riyadhah, puasa, dan berperilaku sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Berkat kesungguhannya dalam mencari ilmu, beliau telah menulis beberapa karya terkenal diantaranya Futuh al-Ghaib, Fathu ar-Rabbani, Adab as-Suluk wa at-Tawassul ila Manazil al-Muluk, dst. Syekh Abdul Qodir al-Jilani adalah satu dari ribuan ulama yang perjalanan hidupnya bisa kita ambil pelajaran. Masih banyak lagi manaqib ulama-ulama besar yang bisa menginspirasi kita dalam berjuang mencari keberkahan ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar